KAMAR 3 X 3
Oleh : Hasriani
KAMAR 3 X 3
Benarlah waktu yang berjalan hanya ku dengar. Suara khas dari jarum merahnya jam, membisikkan bahwa banyak waktu yang kau buang sia-sia. Tidakkah kau tau, banyak hal yang harus kau selesaikan. Termasuk, mencari uang untuk makan besok lusa. “Dasar malas” imbuhku kembali.
Jauh dilubuk hatiku, menyimpan kebenaran akan bisikan itu. Walau ku tau beratnya hidup di perantauan, seorang diri, berstatus masih lajang, dan seorang wanita. Waktu itu, betul aku hanya ingin terpaku, bagai patung yang tanpa gunda dan masalah. Ku ingin bebaskan diriku dari kebingungan yang setiap harinya mendera hati dan pikiranku.
Aku membaringkan tubuh, diatas kain merah muda bergambar boneka Hello kitty. Tanpa menutup mata sedikitpun. Tidak untuk tidur, tapi hanya ingin berdiam dan tenang.
Lalu, ku raih Handphone merah yang tidak jauh dari pembaringan. Dan seperti biasa, sedikit ingin berjalan-jalan di dunia maya karena hal itu tak melelahkan, bahkan sering menguras waktu tanpa sadar. Sekedar mencari teman lama dan teman baru. Juga ingin mengintip berita, bagaimanakah Indonesiaku hari ini?.
Facebook, mulai terbuka. Dengan lincah jemari memainkan beranda, pemberitahuan dan kabar berita. Dan kabar berita hari ini ternyata masih seperti kemarin. Dipenuhi berita yang menyenangkan, duka bahkan sangat terluka.
“Seorang nenek tewas akibat kenaikan BBM, Sumedang”, “Ketat, celana wanita Aceh ini disemprot cat, “Hari ini, AL ledakkan kapal Vietnam maling ikan hingga tenggelam”, “Aburizal Bakri kembali terpilih sebagai ketua umum partai Golkar”.
Namun, kabar yang begitu menyayat hati, ketika membaca salah satu tulisan “Wakil Ketua DPRD ini tegaskan tak akan pasang foto Jokowi diruangnya, hanya pasang foto Prabowo” dan “Dimunas Golkar Prabowo disebut presiden Indonesia”.
Ketenangan hari ini mulai terusik. Tersontak air mata jatuh berderai dengan perasaan kalut yang tak terbaca olehku. Aku juga merasa bingung. Ketika linangan itu membasahi pipi. “Kenapa aku menangis?” tanyaku sambil berbisik.
Kemudian, ku rebahkan badan di tembok kamar berukuran 3 x 3 meter itu. Kerutan kening pertanda bertanya pada diri. Apa yang tengah ku pikir?. Apa yang sudah ku baca sangat mengganggu dan ingin rasanya aku teriak karenanya. Tapi, apa untungnya buatku?. Lagi-lagi jiwa dan ragaku sedang diskusi besar menanyakan apa yang telah terjadi.
“Jika kau merasakan sesuatu yang tidak kau ketahui asal dari rasa itu, maka pejamkanlah matamu, lalu bertanyalah pada hati tentang apa yang kau inginkan” seseorang sering berkata demikian padaku. Ketika, aku menemui jalan buntu atau sesat tentang rasaku sendiri.
Sejenak melakukan ritual kata yang sering ku laksanakan. Selembaran tanyaku mulai terjawab. Ada ketakutan melihat kabar berita lalu. Di sudut ruang kamar tergambar, manusia yang ego dengan kesenangan sendiri. Menciptakan kekuasaan dengan aturan yang ia inginkan. Membelakangi atasan karena merasa lebih hebat, meski kodrat tak berpihak padanya. Merapatkan barisan dengan kekuatan kelompoknya, demi keuntungan tanpa melihat hakikat dirinya sebagai bawahan.
Itulah teropong yang terlukis penyebab air mata terpaksa keluar dari persemayamannya. Sebagai masyarakat yang awam tentang apa yang mereka lakukan, hanya mampu meneropong lewat hatiku. Ntah benar atau tidakkah itu. Inilah yang ku rasa. Dan menjadi penyebab utama, ketakutan akan kehancuran yang kian melanda. Aku yang masih sedang mencari kerja patut merasa takut.
Takut, jika aku salah ucap. Ketika mungkin berada disalah satu kubu. Yang tidak aku ketahui. Terbayang Indonesia kubu A dan Indonesia kubu B. Manakah mereka, juga aku tidak tahu. Yang ku tahu, hanya memiliki satu Presiden. Berhasil atau tidakkah presiden memimpin, merupakan persoalan belakang. Karena, mampu atau tidak akan terlihat, ketika sudah terjadi proses. Kenapa orang tidak sabar menunggu “Pencopotan” jika sudah dianggap sangat merugikan Negara. Itupun kan terlihat setelah proses berlalu.
Inilah rumusan pemikiran bodoh yang lahir di kamar kecilku. Begitu banyak para manusia cerdas, kaya dan sangat kritis. Sehingga, sudah mampu memprediksi kekuatan pemimpinnya sendiri sebelum melalui proses kepemimpinannya. “Semoga terawang ini salah, aku takut ijasahku akan terbungkus selamanya dan tak berguna sedikitpun, karena terbentuknya kelompok demi kelompok yang mungkin tak satupun, berminat menulis namaku sebagai salah satu anggotanya”.
Bukan bagaimana atau siapa yang salah, tapi mungkin hanya aku yang terlalu bodoh membayangkan yang tidak mungkin terjadi. Mengungkung jiwaku dalam ketakutan. Selalu berpikir “Bagaimanakah nasib bangsa setelah ini?”.
Ku putuskan untuk keluar dari ruang kecil itu. Ternyata mengurung diri adalah pilihan yang salah. Semakin menyendiri, membuat pikiran melayang dan sibuk memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Dan semakin menambah beban dalam jiwa dan otakku.
Dan tidak kusesali apa yang telah ku baca di Facebook. Justru itu menjadikan diriku bisa lebih berhati-hati dalam setiap langkahku. Mungkin inilah hikmah dari proses penyendirian hari ini. Juga ku tetap berdo’a, semoga bangsa yang merupakan hidupku ini, menemukan ketenangan dan kesejahteraan kelak. Bukannya membentuk kelompok, dan mencari mana yang terkuat. Tapi, membentuk kelompok untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita bangsa melalui cinta. CINTA yang gambarkan ini menjadi (C inta I ndonesia da N T etap A kur)
Malunda, 9 Desember 2014

Comments
Post a Comment