Budaya dan Sastra


Oleh : Hasriani

                                                 MAAF SAYANG!

“Patindomoq doloq kambe, masekemi tau tandaq”  empat sampai lima kali kata itu terulang tuk menenangkan hati si kecil. Teriris hatiku melihat dia harus membuka mata sambil merengek. Aku hanya mampu mengusap-usap rambutnya, memancing kantuk menghampiri mata yang belum berdosa itu. Dan tak henti pula ucapan jiwa memohon do’a, agar mobil yang ku tumpangi tetap menancap gas dan tak memberhentikan tumpangannya, di warung tempat mengisi perut.
Malu yang juga kesekian kali memenuhi pundakku, dihempas habis rasa perih memandang kepiluan melanda buah hati. Betapa ku tahu bahwa dia sangat membutuhkannya, namun aku juga lemah dan hanya mampu menenangkan mata lusuh walau sekejap. Tegar berarti hancur dan luluh juga semakin hancur. Dilema yang kian mendera tak mampu menemui titik terangnya. Ntah mengapa waktu juga semakin memperlambat dirinya tuk mengakhiri cerita ini.
“Toriqmo kasiqna anakqu, bere-beremu raq tuo dilino, tuna tammekama tomi” bisikan itu seakan menjadi nyanyian setiap belaian rambut di atas pahaku. Bukan sesal ataupun kecewa, tapi kujadikan ia sebagai motivasi diri. Diapun berhak mendapat kebahagiaan, layak anak-anak sebayanya. Mungkin belum pantas si kecilku merasakan pahitnya hidup hari ini.
Akan tetapi, niatku yang tadinya ingin menitipkan pada neneknya, telah kutanggalkan karena kekhawatiranku akan keselamatan semata wayang. Dan aku juga akan terselimuti bayangan setiap kali kan melangkah karena tak bersama dia, sehingga tak ada alasanku pergi tanpa bersamanya. Akhirnya, inilah resiko yang harus ku hadapi. Dia yang tak tahu apa-apa selalu ingin memenuhi hasrat yang ia rasakan saat itu “LAPAR”. Dan betapa ia pun tak mengerti, masalah tengah menghadang. Tak mungkin ku persalahkan jua.
Pukul 12.00 WITA, setengah perjalanan rute Polewali Mandar–Mamuju. Masih terhitung 2 jam untuk tiba di tujuan. Dalam lelapnya terdengar suara lirih dari arah perut yang mulai kosong itu. Jangankan dia, wilayah tengahku pun juga mulai memanggil, dan wajarlah jika terus memelas.
Aku, sama sekali bukanlah masalah. Bahkan aku rela mengayun-ayunnya diatas pahaku selama berjam-jam lamanya, demi menghadirkan kantuk berkepanjangan padanya, meski ku dituntut harus melakukan sampai di gubuk kami. Terasa berat ku memikul derita yang kian menyiksa ini.
Pengaruh sempit dan jalan yang mulai berlubang pasca perbaikan, menggerogoti alam bawah sadarnya. Lagi-lagi “LAPAR” kata itu dibisikkan ditelingaku. Ingin rasanya membuka plastik merah tempat uang sebagai dompetku ini, serta menjelaskan padanya bahwa ini hanya cukup untuk ongkos pulang, bahkan yang kutakutkan jika supirnya menargetkan tarifnya sendiri. Terlebih ketika BBM dinaikkan. Meski, kata orang harga BBM turun, bagiku tetap saja naik. Yach, tetap saja naik.  
“Kareppuqmi kambe” sambil ku tersenyum pilu menahan suara dari tetangga dudukku. “Berilah kesabaran pada anakku, yang ku tahu Engkau Maha Kuasa dari Segalanya, hilangkanlah rasa lapar dan hadirkanlah rasa kantuk selama perjalananku” do’a terpanjat dengan penuh harap. Tuhan memberi pertolongan pada hambanya yang tak berdaya.
 Rupanya dia sudah beranjak. Dan aku lupa dia bukan anakku yang dulu, ketika menangis kutenangkan ia dengan ASI, tanpa mengeluarkan goceng istilah anak muda saat ini. Tapi sekarang, dia butuh suapan nasi sebagai makanan pokok. Itulah masalah utama. Yang menghadapkanku antara anak dan biaya transport.
Ingin jua ku sisakan uang saku untuknya. Yah! apalah daya tangan tak sampai. BBM naik, kehidupan semakin menipis. Harga jual kelapa dan mangga yang ku pungut masih sangat murah dan tak ada perubahan. Penghasilan setiap harinya habis untuk keperluan hari esok. Hingga, tak ada waktu untuk merasakan jajanan luar bersama sang buah hati. Termasuk di atas roda empat ini yang dikelilingi godaan dari setiap yang ikut bersama kami. Karena tak jarang, mereka membawakan bekal untuk anaknya.
Sauasana itu hanya menambah kesulitanku. Setiap kali kerenyahan terdengar olehnya. Dia menatapku penuh isyarat bahwa ingin juga mencicipi kue anak sebelahku. Mengapa cerita ini semakin menghimpitku. Ku rebahkan ia di dadaku, agar mendapat kehangatan yang baru. “Tidurlah sayang, tidurlah sayang, kita sudah hampir sampai”.
“Bangunlah jika kita sudah tiba. Karena uang kita hanya cukup untuk sewa mobil. Maaf! karena membiarkanmu lapar sepanjang perjalanan. Bukan mauku sayang, tapi kondisi yang memaksa ibu tuk membiarkanmu merasakan yang seharusnya tidak perlu kau rasakan” itulah komat-kamit yang selalu terulang sembari mengusap mata agar ia tertidur.
Kakiku mulai keram. Tapi, tidurya lebih penting karena ku tak tahan melihat pandangannya yang sangat meminta harapan, setiap kali menatapku. Betapapun sakit yang ku pikul, ketenangannya menjadi pengobat dari segala derita. Semoga Tuhan menunjukkan jalan untukku, dalam menjaganya. Karena aku juga sangat menyayanginya, lebih dari diriku.
                                                                      Malunda, 8 Januari 2015
   





Comments

Popular posts from this blog

Impian Siswa Dibalik Tes Kemampuan Akademik

Pendidikan

Pendidikan