Budaya dan Sastra
Oleh :Hasriani
Sebungkus Permen
Wajah cerah yang terpancar dironanya saat itu membuatku harus jatuh hati padanya untuk yang pertama kalinya . Dia suami yang sangat sabar, tegar dan penuh pengertian bagiku. Dia pujaanku dan berat bibir ini mengatakan padanya. Ntah mengapa aku malu mengutarakan perasaan cintaku yang begitu besar ini. Padahal ijab kabul sudah terucap untukku.
Akhirnya harus ku ungkap rasa ini dalam goresan kalimat untuknya. Tindak yang tak pernah terjamah olehku, kini ku kokohkan hatiku ingin memberi tahunya tentang hati. Meski lewat surat ini.Tak kupungkiri rasa pengecut yang menyelimuti raga telah menggerogoti sukmaku. 3 bulan lamanya pernikahan mengikat kami tak urung jua membangkitkan keberanian padanya. Sungguh mebingungkan. Mungkin inilah rasanya dijodohkan.
Pandangku tak pernah lepas darinya. Sehelai rambut jatuh dibahu kirinya kujadikan alasan untuk dekat dengan dia dan menatap lebih dekat lagi. Perjodohan ini bagaikan surga untukku.
Sebuah faksi menghempas memoriku. Aku hampir tak bisa berkata-kata melihat paras wajahnya yang menawan. “Apakah aku jatuh cinta padanya” tanya membisik.
Jarinya mulai menyentuh tas hitam yang akan dibawanya. Kutelisik setiap sisik langkahnya. Aku takut jika dia terjatuh dan merasa kesakitan. Aku mulai tenggelam dalam peraduan asmara. Cinta itu terhimpit dalam lilitan ego mengepung.
Dia memecah hening. Mengucap kata pamit dengan manis. Giginya yang putih merata menambah daya tarik memandangnya. Sambil tersenyum, dia menyodorkan sebungkus permen untukku. Sebuah permen yang sangat tidak kusukai kini kugenggam demi menyenangkan raja duniaku.
Diluar dugaan. Pikirku dia akan beranjak ketika permen telah ditangan. Namun, dia seakan menungguiku untuk membuka dan merasakan manisnya pemberiannya itu.
Meski gunung menghalang, laut luas membentang, jalan itu harus ku tempuh. Permen yang sangat tidak kusenangi harus ku kecup demi untuknya. Walau kening mengerut dibarengi mata menyipit, semua terasa romantis asal dia berada disisiku. Suami yang baru ku kenal dan ku cinta menjadikan hati luluh tak tersisa. Aku maklum dengan kondisi itu. Dia belum banyak mengenalku, apa kesukaan dan kebiasaanku selama ini. Yah lagi-lagi inilah kisah perjodohan.
Sosok menyongsong pundi-pundi naluri. Pelan –pelan ia pergi meninggalkanku, menyisahkan bekas tapak dikelopak mata. Denyutan jantung itu masih terdengar. Suara lirih ku luntahkan “Akhirnya papa dan mama berhasil menculik hatiku untuknya”. Air mata yang dulu bercucuran saat gaun pengantin menyelimuti kini telah kusesalkan. Aku terlalu cepat memvonis waktu.
Mengapa keberanian ini tersembunyi untuk mengungkapkan semua untuknya. Dia sangat pantas untuk disayangi, dan mungkin ronde ini sudah tak pantas untukku. Masih teringat jelas kata yang menbandingkan dirinya dengan sang mantan kekasih. Jika dulu waktu kubiarkan merenggut masaku, maka bahagia ini akan terbuang sia-sia.
Rasa malu itu semakin memporak-porandakan diriku. Akankah kata maaf itu terlukis jika aku jujur tentang masa lalu. Ataukah lebih baik diam untuk tidak mengecewakannya. Aku semakin kalut. Kubiarkan waktu berjalan melampauiku. Tak ada lagi kata yang harus ku untai selain kata cinta untuknya.
Niatnya mencari nafkah telah kuhianati dimasa lalu. Nyawa dibayar nyawa tapi tidak untukku kali ini. Jika dirinya mati bersamaku, aku ikhlas melepasnya. Namun, jika tubuhnya bersama yang lain dan meninggalkanku dalam hidup bernyawa, maka akan kuhentikan nafas itu sebelum langkahnya menghilang dariku. Mungkin sadis, tapi itulah fakta yang kuhadapi selama ini. Tak rela batinku melihatnya bersama yang lain karena besarnya cintaku untuknya.
Sebungkus permen itu telah menyadarkanku dari lelap selama ini. Cinta yang ternyata ada kini bangkit dari peraduannya. Aku terlalu munafik dengan apa yang ada. Suami yang dulu tidak kuinginkan menjadi sebagian dari nyawaku. kekasih yang menghuni dihati terhempas ombak asmara yang diberikan. Akhirnya tak dapat kutemui nama kekasih dihati lagi. Karena aku telah menyerahkan jiwa dan ragaku untuknya dengan perlahan tanpa kusadari dalam kurung waktu 3 bulan.
dia yang tak tau banyak tentangku, enggan membuatku kecewa. Karena kujadikan bayaran dosa yang mungkin tiada arti nilainya. Mulai detik ini, akan kutelusuri siapa dan bagaimana yang ia inginkan agar dia selalu bersamaku hingga malaikat menjeput. Untaian kata ini akan ku ukir selalu dan selamanya untuk suami tercinta yang dulu tak kukenal.
Pasa’bu, 3 Januari 2013

Comments
Post a Comment