Jurnal Refleksi Dwi Mingguan PGP Modul 1.1
Jurnal
Refleksi Dwi Mingguan
Pendidikan
Guru Penggerak
Modul 1.1
Penulis : BUSRIADI
Unit Kerja :
SDN 16 TANISI
CGP Angkatan
9, Kabupaten
Majene Sulawesi Barat
Dalam
pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci
pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan
praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara
kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan
memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi
apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan
langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll
& Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi
dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga
Anda dapat semakin mengenali diri sendiri.
Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) memajukan pendidikan Indonesia adalah dengan menciptakan
pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan
yang lebih baik melalui Program Guru Penggerak. Menteri Pendidikan dan
kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem, menyatakan bahwa Guru Penggerak adalah ujung
tombak transformasi pendidikan Indonesia. Diharapkan dengan adanya program Guru
Penggerak, pendidikan lebih berpihak pada anak sehingga tidak hanya mencetak
lulusan yang cerdas secara akademik tetapi juga memiliki karakter yang baik
sesuai dengan Pancasila.
Setelah
mengikuti PGP atau pendidikan guru penggerak selama 2 minggu dengan mempelajari
modul 1.1 cara pandang saya terhadap peserta didik mulai membaik. Tidak hanya
memandang peserta didik sebagai tempat untuk mentransfer ilmu, namun menjadikan
peserta didik dapat menerima ilmu serta tuntunan yang baik dari saya selaku
pendidik. Karena, kurangnya kesadaran yang selama ini saya rasakan dalam
memandang profesi ini, yang ternyata merupakan profesi yang sangat mulia. Dan,
tentu harapan kedepannya bisa lebih baik lagi dengan cara memperbanyak
merefleksi diri.
Refleksi bisa diterapkan dengan berbagai cara diantaranya
refleksi dengan lisan, refleksi melalui jurnal, refleksi dengan video, refleksi
menggunakan catatan bisa juga dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang lebih
menarik. Ernesta menjelaskan ada banyak model dalam melakukan refleksi, salah
satu model refleksi yang dapat diterapkan yakni 4F: Fact, Feeling, Finding,
Future. (1) Fact: Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembekalan pada hari ini?
Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran hari
ini?; (2) Feeling: Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung?
Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut?; (3) Finding:
Ceritakan yang anda pelajari pada hari ini? Elaborasi cerita Anda dengan
pembelajaran yang paling berkesan?; (4) Future: Ceritakan manfaat pembelajaran
pada hari ini untuk peran Anda di sekolah.
Saya
menggunakan model 4F dalam jurnal refleksi dwi mingguan ini dengan menuliskan
catatan selama pelaksanaan selama menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara. Adapun pertanyaan pemantik yang telah diramu
dalam refleksi ini, sebagai berikut:
1.
Fact (Peristiwa): Ceritakan
pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat aksi
nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut?
Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada
minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?
2.
Feeling (Perasaan): Bagaimana
perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika
menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki
perasaan tersebut.
3.
Finding (Pembelajaran) : Pelajaran
apa yang saya dapatkan dari proses ini ? Apa hal baru yang saya ketahui
mengenai diri saya setelah proses ini?
4.
Future (Penerapan) : Apa yang bisa
saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ?
Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?
Disini akan menulis Jurnal Refleksi Dwi Mingguan
dari pengalaman pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara pada Modul 1.1
1.
Facts (Peristiwa)
a.
Pembukaan
PGP Angkatan 9
Kegiatan
pertama dalam Pendidikan Guru Penggerak ini yakni pembukaan PGP pada hari Rabu, 16 Agustus 2023 oleh Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Anwar
Makarim, B.A., M.B.A., Dirjen GTK
Ibu Prof. Nunuk Suryani, M.Pd. Hadir pula
Dr. Praktono, M.Ed Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga
Kependidikan. Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan
Masyarakat Ibu Dr. Santi Ambarumi, M.Ed., Direktur Guru Pendidikan Dasar Bapak
Dr. Drs. Rahmadi Widiarto, M.A.,
Hadir pula
melalui virtual, Para Gubernur, Wali Kota, dan Bupati kepala dinas pendidikan provinsi, dan
kabupaten/kota, para kepala BGP dan Balai Besar Guru Penggerak, Pengajar
Parkatek, Instruktur, Fasilitator dan CGP Angkatan 9 melalui zoom dan live streaming youtube tersebut.
Link
Pembukaan CGP Angkatan 9 :
https://www.youtube.com/watch?v=QefRgYvMawM&t=1696s
Dr.
Praktono, M.Ed Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga
Kependidikan Kemendikbud Ristek mengawali pembukaa PGP Angkatan 9 menyampaikan
laporan pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 Tahun 2023. Katanya,
sebagai diketahui bersama bahwa program guru penggerak, adalah merupakan
program kepemimpinan bagi guru untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin pembelajaran.
“Melalui PGP
ini, kita siapkan untuk menjadi kepala sekolah, menjadi pengawas sekolahs
sehingga proses tranformasi pendidikan kita bias berjalan optimal,” kata Dr.
Praktono.
Tujuan guru penggerakan, memberikan kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan juga keterampilan pedagogik para guru. Sehingga mampu untuk menggerakkan komunitas belajar baik dalam satuan pendidikan maupun di lingkungan satuan pendidikan. Melalui Pendidikan Guru Penggerak pihaknya ingin mewujudkan rasa nyaman dan bahagia pada peserta didik.
Sejauh ini,
dari angkatan 1 hingga angkatan ke 7 Guru Penggerak telah menghasilkan 49.733
guru penggerak. Menghampiri 50.000. Sehingga ketika angkatan 9 selesai
dilaksanakan, maka akan ada 90 ribu lebih guru-guru hebat seluruh Indonesia
yang akan menjalan merdeka belajar.
Sementara
itu, Dirjen GTK Ibu Prof. Nunuk Suryani,
M.Pd mengatakan,
bahwa Ki Hadjar Dewantara Bapak Nasional Indonesia mengatakan, upaya di bidang
pendidikan merupakan perjuangan untuk membangun peradaban. Perjuangan itu
bukanhanya membahasa kurikulum dan hasil belajar, dan bukan hanya sebatas
mengajar, dan mendidik. Namun melahirkan pembaharu yang akan menjawab tantangan
zaman. Sekarang dan zaman yang akan dating.
Prof. Nunuk
Suryani, M.Pd berpesan,
kepada seluruh CGP Angkatan 9 yang akan mengikuti PGP ini kiranya tetap
bersabar menjalani pendidikan selama enam bulan ke depan. Dari Agustus hingga
April 2024 mendatang.
“Jika semantatnya nanti
menurun kembalilah ke motivasi awal. Saat ibu/bapak mendaftar dan mengikuti seleksi
,” pesan Prof. Nunuk.
Sedangkan Anwar Nadiem Makarim
B.A., M.B.A., selaku Kemendikbud Ristek saat
membuka PGP Angkatan 9 menyampaikan, bahwa pelaksanaan guru penggerakan
merupakan upaya bersama untuk nyata bersama memajukan system pendidikan. Pada Kesempatan
kali itu, ia kembali ingin menekankan kepada ibu dan bapak guru tentang
pentingnya dan besarnya peran guru penggerak untuk keberhasilan gerakan merdeka
belajar. Keberanian guru penggerak dalam melahirkan inovasi, dan menggerakkan
perubahan telah memberikan kesempatan bagi peserta didik dalam belajar dan
berkarya.
“Komitmen guru penggerak untuk
melahirkan pembelajaran berpusat pada murid telah menjadikan ruang kelas untuk
belajar yang menyenangkan,” ucap Nadiem Makarim.
Usai kegiatan pembukaan, kami
dari CGP Angkatan 9 Provinsi Sulawesi Barat menerima
arahan tentang pengenalan mengenai LMS dari BGP Sulawesi Barat atau BGP
masing-masing. Dalam hal ini, dipandu oleh Pak Jasman, yang membuka jalan awal
CGP dalam mengenal ruang LMS. Pertemuannya juga melalui zoom dan berjalan
lancar.
b. Pre-Test
Pada Tanggal 18 Agustus 2023 adalah
jadwal pre-test untuk mengukur
tingkat kemampuan awal kami sebagai guru sebelum menerima materi dari modul PGP
Tersebut. Meskipun banyak hal baru yang saya dapatkan dari soal, namun saya
berusaha menjawab dengan penuh keyakinan dan kejujuran untuk menjadikan
refleksi diri dalam pengembangan diri pula untuk bekal ke
depannya.
C. Memulai
Aktivitas di LMS
Setelah
pre test,
kami memulai materi dengan belajar mulai dari mengirim tugas sesuai dengan
pemahaman kita terhadap materi yang diberi istilah memulai dari diri. Bagaimana
pemikiran kita tentang Ki Hajar Dewanatara dalam pendidikan.
Dan
kegiatan selanjutnya adalah melakukan pertemuan eksplorasi konsep dalam ruang
diskusi bersama teman kelompok untuk membahas materi yang telah kita pelajari
secara mandiri. Baik dengan mengajukan pertanyaan ataupun memberi respon atau
jawaban terhadap pertanyaan teman kelompok yang lain.
Kegiatan Forum Diskusi dipandu langsung, Bapak Fasilitator Drs. Muhammad Natsir, M. Pd. Kegitan berlangsung secara virtual, Rabu 23 Agustus 2023
Kemudian,
mengadakan meet dalam ruang kolaborasi diskusi virtual bersama dengan
fasilitator hebat yakni Pak Muhammad
Natsir. Beliau mengajak kita berdiskusi dan mengajak kita
menyampaikan pemahan kita terhadap materi dengan mengajukan pertanyaan
pemantik. Dan akhir pertemuan kami, beliau memberi arahan tentang persiapan
dalam vicon selanjutnya.
Pada
vicon kedua, dalam ruang kolaborasi diskusi kelompok, kami membahas panjang
lebar tentang budaya apa yang akan kami terapkan dalam kelas, agar peserta
didik dapat mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pada diskusi kelompok B
menyepakati untuk mengambil “Metaweq” sebagai budaya yang dapat dilestarikan
dan diterapkan di kelas untuk menuntun peserta didik agar dapat selamat dan
bahagia baik secara individu maupun hidup bermasyarakat.
Sehingga,
vicon yang ketiga kami mempresentasikan hasil diskusi kelompok kami dalam ruang
kolaborasi. Kami menyampaikan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara yang sejalan
dengan budaya daerah kita khususnya di Sulawesi Barat yakni metaweq karena kami mempercayai dan
meyakini dengan diterapkannya budaya ini, maka anak-anak dapat dijauhkan dari
hal-hal buruk paling tidak secara sisi kesopanan. Karena, sesuai narasumber
dari salah satu budayawan Mandar yakni Ridwan Alimuddin mengatakan “‘Metaweq’
adalah sikap, adat kesopanan bagi masyarakat Mandar, ‘metaweq’ erat kaitannya
dengan ‘siriq’ (malu). Mua dissangi siriq dissang tomi tuqu metaweq” Artinya,
orang Mandar mengsakralkan ‘metaweq’ sebagai bentuk tuntunan kepada anak untuk
mencegah ke perilaku yang negatif.
Dari dasar
itulah, kami menetapkan metaweq
sebagai budaya yang akan kami terapkan dalam kelas untuk menumbuh kembangkan
budi pekerti anak menuju keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Dengan cara membiasakan diri saling menghargai dengan ‘mewateq’ setiap bertemu
dengan teman atau guru, sebelum
berbicara dengan guru, ataupun teman yang lebih tua darinya juga sebelum
presentasi di depan atau menjawab pertanyaan dalam proses belajar mengajar
dalam kelas. Semua ini bermakna meminta izin dengan penuh tanggung jawab dan
penuh kasih sayang yang diimplementasikan dalam sikap saling menghargai melalui
‘metaweq’.
Setelah
ruang kolabaroasi berlangsung selama 3 kali vicon, dilanjutkan mengirim tugas
demontrasi kontekstual dengan menetapkan metaweq
sebagai budaya yang akan kami
terapkan dalam kelas dengan memberikan informasi mengenai tantangan dan solusi
dalam penerapan tersebut.
Meet
terakhir dalam modul 1.1 bertemu dengan instruktur A. Rahman yang memberikan
kami ilmu dengan penyampaian materi yang sangat sistematis dan komunikatif,
sehingga membuka pemikiran kami terhadap pemahaman dalam materi modul 1.1
pemikiran Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya, mengirim tugas koneksi materi dan aksi nyata diunggah dalam
portopolio digital.
d. Lokakarya
Orientasi
Lokakarya orientasi diadakan hari Ahad, 27 Agustus 2023 secara virtual. Dalam Lokakarya kali ini, dibuka langsung
oleh Kepala Balai
Guru Penggerak (BGP) Provinsi Sulawesi Barat, Erfan Agus Munif, S. Pd. M. Pd. Saat menyampaikan sambutan pembukaan, Pak Erfan Agus
Munif mengatakan bahwa
kondisi pendidikan di Sulawesi Barat, sedang tidak
baik-baik saja. Saat ini, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Sulbar masih berada
di bagian bawah.
“Hasil asessmen kompetensi kita dibawah
rata-rata nasional. Maka tidak baik-baik saja. Maka dari itu kita harus
melakukan gerakan-gerakan hingga kita menghancurkan berbagai macam tembok yang
menghalangi kemajuan di Sulawesi Barat,” kata Erfan.
Kegiatan Lokakarya Orientasi Secara Daring dibuka langsung Kepala BGP Sulbar Erfan Agus Munif (Baju biru), Kamis 27 Agustus 2023
Bagaimana cara mengejar ketertinggalan
ini, “Kita harus perbaiki secara pundamental. Paradigma kita harus diubah.
Bahwa kita atau guru, punya potensi yang luar biasa. Maka guru yang harus
memperbaiki. Bagaimana cara mengubahnya, kita harus mengubah paradigma kita,”
ungkapnya.
Bapak/ibu program guru pengggerak, kata dia, bertujuan untuk menjadi
katalisator. Harapannya guru bisa benar-benar menggerakkan. Menggerakkan
dirinya sendiri untuk mampu membangun ekosistem pembelajaran yang menyenangkan
yang sesuai kebutuhan pembelajaran. Yang pada akhirnya nanti mampu
mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.
Guru penggerak bisa menjadi penguatan
pembelajaran. Sehingga nantinya berdampak pada ekosistem dalam kelas. Tunjukkan
bahwa bapak/ibu nanti betul-betul menjadi guru penggerak, yang mampu
menggerakkan ekosistem dalam kelasnya. Sehingga bapak/ibu nanti layak menjadi
penggerak di sekolahnya.
“Kalau ini terjadi, dan tidak
membutuhkan lama, bisa lima tahun dari sekarang, semua ekosistem sekolah di
Majene akan bisa optimal. Memang bukan pekerjaan mudah, tapi saya yakin kita
semua bisa menjalani. Dan untuk itu yang penting kolaborasi dari semua pemangku
kepentingan,” pinta Erfan.
“Saya ketemu kepala dinas pendidikan
Kabupaten Majene, dan bekomitmen yang hebat-hebat nanti guru pennggerak akan
segera diarahkan menjadi kepala sekolah dan pengawas. Teman-teman calon guru
penggerak, mari bersama-sama berkolaborasi untuk mewujdukan Sulawesi Barat yang
lebih baik,” harap Erfan.
C. Elaborasi
Pemahaman
Pada elaborasi
pemahaman yang dilaksanakan secara virtual. Diikuti seluruh CGP Angkatan
Sewilayah Sulawesi Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu 30 Agutus 2023.
Yang menjadi
instruktur adalah Pak Drs. A. Rahman. Beliau adalah asli dari Sumbawa, Sumbawa
Nusa Tenggara Timur. Dalam pertemuan ini, instruktur kembali menguatkan
pemahaman Ki Hadjar Dewantara.
Kegiatan Elaborasi Pemahaman yang dipandu langsung Instruktur A. Rahman dari NTT.
2. Feeling (Perasaan)
Perasaan saya setelah mengikuti PGP
dan mempelajari Modul 1.1 tentang pemikiran ki Hajar Dewantara memandang
pendidikan, menjadikan saya merasa bersalah atas apa yang saya lakukan selama
ini. Karena, apa yang saya pikirkan dan lakukan selama ini banyak yang keliru.
Memadang anak hanya sebatas tempat untuk mentransfer ilmu, sebagai tempat untuk
menggugurkan kewajiban tanpa memandang kebutuhan mereka apakah terpenuhi
ataukah tidak sebagai anak didik.
Saya berusaha sedikiti demi sedikit
keluar dari zona tersebut. meskipun belum sempurnah, namun saya sudah mulai
merangkak untuk mengubah diri agar rasa bersalah tersebut dapat terobati. Untuk
menghadapi kebaikan, tentu akan ada keburukan sebagai tantangannya, sehingga
saya berusaha untuk menghadapi tantangan tersebut dengan semangat dan
keyakinan, bahwa niat yang baik akan mendapat ujian, sekaligus jalan untuk
menyelesaikannya pula.
Saya berusaha membangun semangat dan
rasa percaya diri saya sebagai pendidik, bahwa dapat mencapai tujuan yang baik
memanusiakan manusia, dengan memberikan tuntunan yang benar sesuai kodrat alam
dan zaman pada peserta didik. Berawal dari, Ing Ngarso Sung Tolodo, Ing Madyo
Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.
Sehingga, tujuan pendidikan untuk menemukan keselamatan dan kebahagiaan
lahir batin anak dapat tercapai.
3.
Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya dapatkan dari
PGP dalam modul 1.1 ini mengubah pola pikir saya, bahwa peserta didik tidak
hanya membutuhkan ilmu lahir saja, namun terlebih untuk ilmu batin anak agar
keselamatan dan kebahagiaan dapat mereka dapatkan dalam kehidupannya secara
individu, maupun bermasyarakat.
Dalam arti bahwa pendidikan itu
bukanlah memberi ilmu tetapi lebih tepatnya menuntun untuk mengarahkan peserta
didik mendapatakan ilmu lahir dan batinnya. Melalui Dasar pemikiran ki
hajar Dewantara saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya. Dan,
hal ini memanglah hal yang sangat penting kita sadari untuk menjalani profesi
sebagai pendidik.
Sebagai guru atau seorang pendidik
saya harus bisa menuntun sesuai kodrat anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mengacu pada trilogi pendidikan
yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani.
Selain itu, saya saharusnya
menumbuhkan karakter yang kuat pada diri anak dalam menghadapi perkembangan
zaman dengan memberikan penanaman karakter dari berbagai budi pekerti atau
budaya luhur yang menjadi jati diri kita sebagai manusia yang berbudaya.
Bukanlah Indonesia jika tidak hidup dengan berbagai macam budaya. Namun, hal
itu juga selama ini saya abaikan, karena menganggap bahwa perkembangan zaman
telah mengubah sikap peserta didik dan tidak menanamkan paragdigma bahwa budaya
dapat dijadikan sebagai pondasi utama dalam menghadapi perkembangan zaman
kapanpun itu.
Sebagai pendidik saya harus senantiasa
menghamba kepada anak atau dengan kata lain berpihak pada mereka, tidak banyak
menuntut tetapi harus digeser menjadi lebih banyak menuntun. Saya juga harus
memandang murid bukanlah kertas yang bisa digambar sesuai kemauan saya, karena
mereka lahir dengan kodrat yang samar. Tugas kita adalah menebalkan garis-garis
samar itu agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai
dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Diibaratkan sedang menanam padi, jangan berharap akan
tumbuh jagung dan rawatlah ia sesuai dengah kodrat sebagai tanaman padi. Jika
ia berasal dari benih yang kurang baik, maka tidak menutup kemungkinan ia masih
memiliki kesempatan untuk tumbuh layaknya benih unggul jika diberikan pupuk dan
perawatan yang baik. Namun sebaliknya, jika ia berasal dari benih berkualitas
dan tumbuh tanpa pemeliharaan yang baik, maka bisa jadi benih itu akan
rusah. Sehingga, sangat penting merawat
agar benih kurang baik, tumbuh manjadi tanaman yang baik, dan benih yang baik
tumbuh subur dan memanen hasil yang baik pula.
4. Future
(Penerapan)
Kodrat alam berkaitan
dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman
berkaitan dengan isi dan irama. Artinya setiap anak sudah membawa sifat atau
karakter masing-masing. Jadi guru tidak bisa menghapus sifat dasar tersebut.
Yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul
sifat-sifat baiknya. Sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.
Dari kodrat itulah, perlu tutunan
menuju keselamatan dan kebagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD yang sesuai
dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah, seperti budaya “Metaweq”. Karena memberikan tuntunan hidup selamat dan
bahagia sebagai makhluk individu maupun bermasyarakat, dengan adanya saling
menghargai dan saling menyayangi.
Dalam penerapan yang saya lakukan di
kelas, untuk mengitegrasikan pendidikan dengan pemikiran ki Hajar Dewantara,
saya berinisiatif dengan membangun kebiasaan-kebiasaan untuk menerapkan kembali
budi pekerti yang sempat dilupakan dan dijauhi oleh peserta didik. Dan,
ditambah tidak adanya rasa kepedulian kami sebagai guru untuk mempertahankan
budaya tersebut, yakni membiasakan budaya metaweq
sebagai penanaman moral baik pada anak.
Untuk mewujudkan peserta didik yang
memiliki ilmu lahirnya, juga akan tertanam ilmu batin anak. Dilihat dari,
kutipan artikel yang ditulis oleh Ardila (2016:48), ‘Metaweq’ bagi
masyarakat Mandar adalah bentuk komunikasi sosial dalam berinteraksi dengan
orang lain, jika metaweq sikap saling menghargai tidak dilakukan, maka
orang-orang akan cenderung melakukan hal-hal yang bersifat negatif/bernilai
buruk, baik dalam perkataan maupun perbuatannya.
Dan diperkuat oleh Ridwan Alimuddin salah satu budayawan
dari Sulawesi Barat, mengatakan bahwa, Metaweq adalah sikap, adat kesopanan
bagi masyarakat Mandar, metaweq erat kaitannya dengan siriq (malu). Mua dissangi
siriq dissang tomi tuqu metaweq, artinya orang Mandar mengsakralkan metaweq sebagai bentuk tuntunan kepada
anak untuk mencegah ke perilaku yang negatif.
Dari alasan inilah saya mendorong dan termotivasi untuk kembali
menerapkan budaya luhur agar menguatkan benteng karakter unggul pada anak
menghadapi perkembangan zaman.
Pengaplikasiannya
di kelas, yakni:
1. Membiasakan metaweq setiap kali izin keluar
dari ruangan, dengan cara mengangkat tangan terlebih dahulu, kemudian metaweq,
2.
Metaweq setiap jalan melewati temannya









Comments
Post a Comment