Jurnal Refleksi Dwi Mingguan PGP Modul 1.1

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan

Pendidikan Guru Penggerak

Modul 1.1

 

Penulis : BUSRIADI

Unit Kerja : SDN 16 TANISI

CGP Angkatan 9, Kabupaten Majene Sulawesi Barat




Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga Anda dapat semakin mengenali diri sendiri.

Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memajukan pendidikan Indonesia adalah dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik melalui Program Guru Penggerak. Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem, menyatakan bahwa Guru Penggerak adalah ujung tombak transformasi pendidikan Indonesia. Diharapkan dengan adanya program Guru Penggerak, pendidikan lebih berpihak pada anak sehingga tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik tetapi juga memiliki karakter yang baik sesuai dengan Pancasila.

Setelah mengikuti PGP atau pendidikan guru penggerak selama 2 minggu dengan mempelajari modul 1.1 cara pandang saya terhadap peserta didik mulai membaik. Tidak hanya memandang peserta didik sebagai tempat untuk mentransfer ilmu, namun menjadikan peserta didik dapat menerima ilmu serta tuntunan yang baik dari saya selaku pendidik. Karena, kurangnya kesadaran yang selama ini saya rasakan dalam memandang profesi ini, yang ternyata merupakan profesi yang sangat mulia. Dan, tentu harapan kedepannya bisa lebih baik lagi dengan cara memperbanyak merefleksi diri. 

Refleksi bisa diterapkan dengan berbagai cara diantaranya refleksi dengan lisan, refleksi melalui jurnal, refleksi dengan video, refleksi menggunakan catatan bisa juga dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang lebih menarik. Ernesta menjelaskan ada banyak model dalam melakukan refleksi, salah satu model refleksi yang dapat diterapkan yakni 4F: Fact, Feeling, Finding, Future. (1) Fact: Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembekalan pada hari ini? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran hari ini?; (2) Feeling: Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut?; (3) Finding: Ceritakan yang anda pelajari pada hari ini? Elaborasi cerita Anda dengan pembelajaran yang paling berkesan?; (4) Future: Ceritakan manfaat pembelajaran pada hari  ini  untuk  peran  Anda di sekolah.

Saya menggunakan model 4F dalam jurnal refleksi dwi mingguan ini dengan menuliskan catatan selama pelaksanaan selama menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara.  Adapun pertanyaan pemantik yang telah diramu dalam refleksi ini, sebagai berikut:

1.    Fact (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?

2.    Feeling (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.

3.    Finding (Pembelajaran) : Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini ? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?

4.    Future (Penerapan) : Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?

 

 

Disini akan menulis Jurnal Refleksi Dwi Mingguan dari pengalaman pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara pada Modul 1.1

1.    Facts (Peristiwa)

a.    Pembukaan PGP Angkatan 9

Kegiatan pertama dalam Pendidikan Guru Penggerak ini yakni pembukaan PGP pada hari Rabu, 16 Agustus 2023  oleh  Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., Dirjen GTK Ibu Prof. Nunuk Suryani, M.Pd. Hadir pula Dr. Praktono, M.Ed Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan. Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Ibu Dr. Santi Ambarumi, M.Ed., Direktur Guru Pendidikan Dasar Bapak Dr. Drs. Rahmadi Widiarto, M.A.,

Hadir pula melalui virtual, Para Gubernur, Wali Kota, dan Bupati  kepala dinas pendidikan provinsi, dan kabupaten/kota, para kepala BGP dan Balai Besar Guru Penggerak, Pengajar Parkatek, Instruktur, Fasilitator dan CGP Angkatan 9 melalui zoom dan live streaming youtube tersebut.

Link Pembukaan CGP Angkatan 9 :

https://www.youtube.com/watch?v=QefRgYvMawM&t=1696s

 

Dr. Praktono, M.Ed Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ristek mengawali pembukaa PGP Angkatan 9 menyampaikan laporan pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 Tahun 2023. Katanya, sebagai diketahui bersama bahwa program guru penggerak, adalah merupakan program kepemimpinan bagi guru untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin pembelajaran.

“Melalui PGP ini, kita siapkan untuk menjadi kepala sekolah, menjadi pengawas sekolahs sehingga proses tranformasi pendidikan kita bias berjalan optimal,” kata Dr. Praktono.


Tujuan guru penggerakan, memberikan kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan juga keterampilan pedagogik para guru. Sehingga mampu untuk menggerakkan komunitas belajar baik dalam satuan pendidikan maupun di lingkungan satuan pendidikan. Melalui Pendidikan Guru Penggerak pihaknya ingin mewujudkan rasa nyaman dan bahagia pada peserta didik.

Sejauh ini, dari angkatan 1 hingga angkatan ke 7 Guru Penggerak telah menghasilkan 49.733 guru penggerak. Menghampiri 50.000. Sehingga ketika angkatan 9 selesai dilaksanakan, maka akan ada 90 ribu lebih guru-guru hebat seluruh Indonesia yang akan menjalan merdeka belajar.

Sementara itu, Dirjen GTK Ibu Prof. Nunuk Suryani, M.Pd mengatakan, bahwa Ki Hadjar Dewantara Bapak Nasional Indonesia mengatakan, upaya di bidang pendidikan merupakan perjuangan untuk membangun peradaban. Perjuangan itu bukanhanya membahasa kurikulum dan hasil belajar, dan bukan hanya sebatas mengajar, dan mendidik. Namun melahirkan pembaharu yang akan menjawab tantangan zaman. Sekarang dan zaman yang akan dating.


 

Prof. Nunuk Suryani, M.Pd berpesan, kepada seluruh CGP Angkatan 9 yang akan mengikuti PGP ini kiranya tetap bersabar menjalani pendidikan selama enam bulan ke depan. Dari Agustus hingga April 2024 mendatang.

“Jika semantatnya nanti menurun kembalilah ke motivasi awal. Saat ibu/bapak mendaftar dan mengikuti seleksi ,” pesan Prof. Nunuk.

Sedangkan Anwar Nadiem Makarim B.A., M.B.A., selaku Kemendikbud Ristek saat membuka PGP Angkatan 9 menyampaikan, bahwa pelaksanaan guru penggerakan merupakan upaya bersama untuk nyata bersama memajukan system pendidikan. Pada Kesempatan kali itu, ia kembali ingin menekankan kepada ibu dan bapak guru tentang pentingnya dan besarnya peran guru penggerak untuk keberhasilan gerakan merdeka belajar. Keberanian guru penggerak dalam melahirkan inovasi, dan menggerakkan perubahan telah memberikan kesempatan bagi peserta didik dalam belajar dan berkarya.

“Komitmen guru penggerak untuk melahirkan pembelajaran berpusat pada murid telah menjadikan ruang kelas untuk belajar yang menyenangkan,” ucap Nadiem Makarim.

Usai kegiatan pembukaan, kami dari CGP Angkatan 9 Provinsi Sulawesi Barat menerima arahan tentang pengenalan mengenai LMS dari BGP Sulawesi Barat atau BGP masing-masing. Dalam hal ini, dipandu oleh Pak Jasman, yang membuka jalan awal CGP dalam mengenal ruang LMS. Pertemuannya juga melalui zoom dan berjalan lancar.

b. Pre-Test

Pada Tanggal 18 Agustus 2023 adalah jadwal pre-test untuk mengukur tingkat kemampuan awal kami sebagai guru sebelum menerima materi dari modul PGP Tersebut. Meskipun banyak hal baru yang saya dapatkan dari soal, namun saya berusaha menjawab dengan penuh keyakinan dan kejujuran untuk menjadikan refleksi diri dalam pengembangan diri pula untuk bekal ke depannya. 

C. Memulai Aktivitas di LMS

Setelah pre test, kami memulai materi dengan belajar mulai dari mengirim tugas sesuai dengan pemahaman kita terhadap materi yang diberi istilah memulai dari diri. Bagaimana pemikiran kita tentang Ki Hajar Dewanatara dalam pendidikan.

Dan kegiatan selanjutnya adalah melakukan pertemuan eksplorasi konsep dalam ruang diskusi bersama teman kelompok untuk membahas materi yang telah kita pelajari secara mandiri. Baik dengan mengajukan pertanyaan ataupun memberi respon atau jawaban terhadap pertanyaan teman kelompok yang lain.

Kegiatan Forum Diskusi dipandu langsung, Bapak Fasilitator  Drs. Muhammad Natsir,                  M. Pd. Kegitan berlangsung secara virtual, Rabu 23 Agustus 2023

 

Kemudian, mengadakan meet dalam ruang kolaborasi diskusi virtual bersama dengan fasilitator hebat yakni Pak Muhammad Natsir. Beliau mengajak kita berdiskusi dan mengajak kita menyampaikan pemahan kita terhadap materi dengan mengajukan pertanyaan pemantik. Dan akhir pertemuan kami, beliau memberi arahan tentang persiapan dalam vicon selanjutnya.

Pada vicon kedua, dalam ruang kolaborasi diskusi kelompok, kami membahas panjang lebar tentang budaya apa yang akan kami terapkan dalam kelas, agar peserta didik dapat mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pada diskusi kelompok B menyepakati untuk mengambil “Metaweq” sebagai budaya yang dapat dilestarikan dan diterapkan di kelas untuk menuntun peserta didik agar dapat selamat dan bahagia baik secara individu maupun hidup bermasyarakat.

Sehingga, vicon yang ketiga kami mempresentasikan hasil diskusi kelompok kami dalam ruang kolaborasi. Kami menyampaikan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara yang sejalan dengan budaya daerah kita khususnya di Sulawesi Barat yakni metaweq karena kami mempercayai dan meyakini dengan diterapkannya budaya ini, maka anak-anak dapat dijauhkan dari hal-hal buruk paling tidak secara sisi kesopanan. Karena, sesuai narasumber dari salah satu budayawan Mandar yakni Ridwan Alimuddin mengatakan “‘Metaweq’ adalah sikap, adat kesopanan bagi masyarakat Mandar, ‘metaweq’ erat kaitannya dengan ‘siriq’ (malu). Mua dissangi siriq dissang tomi tuqu metaweq” Artinya, orang Mandar mengsakralkan ‘metaweq’ sebagai bentuk tuntunan kepada anak untuk mencegah ke perilaku yang negatif.


  Kegiatan Forum Diskusi Presentasi dipandu langsung, Bapak Fasilitator  Drs.    Muhammad         Natsir, M. Pd. Kegitan berlangsung secara virtual, Kamis 24 Agustus 2023

 

Dari dasar itulah, kami menetapkan metaweq sebagai budaya yang akan kami terapkan dalam kelas untuk menumbuh kembangkan budi pekerti anak menuju keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dengan cara membiasakan diri saling menghargai dengan ‘mewateq’ setiap bertemu dengan teman atau guru,  sebelum berbicara dengan guru, ataupun teman yang lebih tua darinya juga sebelum presentasi di depan atau menjawab pertanyaan dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Semua ini bermakna meminta izin dengan penuh tanggung jawab dan penuh kasih sayang yang diimplementasikan dalam sikap saling menghargai melalui ‘metaweq’.

Setelah ruang kolabaroasi berlangsung selama 3 kali vicon, dilanjutkan mengirim tugas demontrasi kontekstual dengan menetapkan metaweq  sebagai budaya yang akan kami terapkan dalam kelas dengan memberikan informasi mengenai tantangan dan solusi dalam penerapan tersebut.

Meet terakhir dalam modul 1.1 bertemu dengan instruktur A. Rahman yang memberikan kami ilmu dengan penyampaian materi yang sangat sistematis dan komunikatif, sehingga membuka pemikiran kami terhadap pemahaman dalam materi modul 1.1 pemikiran Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya, mengirim tugas   koneksi materi dan aksi nyata diunggah dalam portopolio digital.

d. Lokakarya Orientasi

Lokakarya orientasi diadakan hari Ahad, 27 Agustus 2023 secara virtual. Dalam Lokakarya kali ini, dibuka langsung oleh Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Sulawesi Barat, Erfan Agus Munif, S. Pd. M. Pd. Saat menyampaikan sambutan pembukaan, Pak Erfan Agus Munif mengatakan bahwa kondisi pendidikan di Sulawesi Barat, sedang tidak baik-baik saja. Saat ini, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Sulbar masih berada di bagian bawah.

“Hasil asessmen kompetensi kita dibawah rata-rata nasional. Maka tidak baik-baik saja. Maka dari itu kita harus melakukan gerakan-gerakan hingga kita menghancurkan berbagai macam tembok yang menghalangi kemajuan di Sulawesi Barat,” kata Erfan.


 

Kegiatan Lokakarya Orientasi Secara Daring dibuka langsung Kepala BGP Sulbar Erfan Agus Munif (Baju biru), Kamis 27 Agustus 2023

 “Kalau kita mau berbicara dunia pendidikan, pembelajaran, posisi guru tidak bisa tebantahkan. Walaupun berkembang berbagai macam aplikasi  yang dulu difikir bisa menggantikan seorang guru, faktanya tak bisa tergantikan. Karenanya jika kita ingin memperbaiki pendidikan, maka siapa yang mau perbaiki adalah gurunya,” tambahnya.

Bagaimana cara mengejar ketertinggalan ini, “Kita harus perbaiki secara pundamental. Paradigma kita harus diubah. Bahwa kita atau guru, punya potensi yang luar biasa. Maka guru yang harus memperbaiki. Bagaimana cara mengubahnya, kita harus mengubah paradigma kita,” ungkapnya.

Bapak/ibu program guru pengggerak, kata dia, bertujuan untuk menjadi katalisator. Harapannya guru bisa benar-benar menggerakkan. Menggerakkan dirinya sendiri untuk mampu membangun ekosistem pembelajaran yang menyenangkan yang sesuai kebutuhan pembelajaran. Yang pada akhirnya nanti mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak.

Guru penggerak bisa menjadi penguatan pembelajaran. Sehingga nantinya berdampak pada ekosistem dalam kelas. Tunjukkan bahwa bapak/ibu nanti betul-betul menjadi guru penggerak, yang mampu menggerakkan ekosistem dalam kelasnya. Sehingga bapak/ibu nanti layak menjadi penggerak di sekolahnya.

“Kalau ini terjadi, dan tidak membutuhkan lama, bisa lima tahun dari sekarang, semua ekosistem sekolah di Majene akan bisa optimal. Memang bukan pekerjaan mudah, tapi saya yakin kita semua bisa menjalani. Dan untuk itu yang penting kolaborasi dari semua pemangku kepentingan,” pinta Erfan.

“Saya ketemu kepala dinas pendidikan Kabupaten Majene, dan bekomitmen yang hebat-hebat nanti guru pennggerak akan segera diarahkan menjadi kepala sekolah dan pengawas. Teman-teman calon guru penggerak, mari bersama-sama berkolaborasi untuk mewujdukan Sulawesi Barat yang lebih baik,” harap Erfan.

C. Elaborasi Pemahaman

Pada elaborasi pemahaman yang dilaksanakan secara virtual. Diikuti seluruh CGP Angkatan Sewilayah Sulawesi Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu 30 Agutus 2023.

Yang menjadi instruktur adalah Pak Drs. A. Rahman. Beliau adalah asli dari Sumbawa, Sumbawa Nusa Tenggara Timur. Dalam pertemuan ini, instruktur kembali menguatkan pemahaman Ki Hadjar Dewantara.


Kegiatan Elaborasi Pemahaman yang dipandu langsung Instruktur A. Rahman dari NTT.

 

   2.    Feeling (Perasaan)

Perasaan saya setelah mengikuti PGP dan mempelajari Modul 1.1 tentang pemikiran ki Hajar Dewantara memandang pendidikan, menjadikan saya merasa bersalah atas apa yang saya lakukan selama ini. Karena, apa yang saya pikirkan dan lakukan selama ini banyak yang keliru. Memadang anak hanya sebatas tempat untuk mentransfer ilmu, sebagai tempat untuk menggugurkan kewajiban tanpa memandang kebutuhan mereka apakah terpenuhi ataukah tidak sebagai anak didik.

Saya berusaha sedikiti demi sedikit keluar dari zona tersebut. meskipun belum sempurnah, namun saya sudah mulai merangkak untuk mengubah diri agar rasa bersalah tersebut dapat terobati. Untuk menghadapi kebaikan, tentu akan ada keburukan sebagai tantangannya, sehingga saya berusaha untuk menghadapi tantangan tersebut dengan semangat dan keyakinan, bahwa niat yang baik akan mendapat ujian, sekaligus jalan untuk menyelesaikannya pula.

Saya berusaha membangun semangat dan rasa percaya diri saya sebagai pendidik, bahwa dapat mencapai tujuan yang baik memanusiakan manusia, dengan memberikan tuntunan yang benar sesuai kodrat alam dan zaman pada peserta didik. Berawal dari, Ing Ngarso Sung Tolodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.  Sehingga, tujuan pendidikan untuk menemukan keselamatan dan kebahagiaan lahir batin anak dapat tercapai.

3.    Findings (Pembelajaran)

 

Pembelajaran yang saya dapatkan dari PGP dalam modul 1.1 ini mengubah pola pikir saya, bahwa peserta didik tidak hanya membutuhkan ilmu lahir saja, namun terlebih untuk ilmu batin anak agar keselamatan dan kebahagiaan dapat mereka dapatkan dalam kehidupannya secara individu, maupun bermasyarakat.

Dalam arti bahwa pendidikan itu bukanlah memberi ilmu tetapi lebih tepatnya menuntun untuk mengarahkan peserta didik mendapatakan ilmu lahir dan batinnya. Melalui  Dasar pemikiran ki hajar Dewantara saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya. Dan, hal ini memanglah hal yang sangat penting kita sadari untuk menjalani profesi sebagai pendidik.

Sebagai guru atau seorang pendidik saya harus bisa menuntun sesuai kodrat anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani.

Selain itu, saya saharusnya menumbuhkan karakter yang kuat pada diri anak dalam menghadapi perkembangan zaman dengan memberikan penanaman karakter dari berbagai budi pekerti atau budaya luhur yang menjadi jati diri kita sebagai manusia yang berbudaya. Bukanlah Indonesia jika tidak hidup dengan berbagai macam budaya. Namun, hal itu juga selama ini saya abaikan, karena menganggap bahwa perkembangan zaman telah mengubah sikap peserta didik dan tidak menanamkan paragdigma bahwa budaya dapat dijadikan sebagai pondasi utama dalam menghadapi perkembangan zaman kapanpun itu.

Sebagai pendidik saya harus senantiasa menghamba kepada anak atau dengan kata lain berpihak pada mereka, tidak banyak menuntut tetapi harus digeser menjadi lebih banyak menuntun. Saya juga harus memandang murid bukanlah kertas yang bisa digambar sesuai kemauan saya, karena mereka lahir dengan kodrat yang samar. Tugas kita adalah menebalkan garis-garis samar itu agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Diibaratkan sedang menanam padi, jangan berharap akan tumbuh jagung dan rawatlah ia sesuai dengah kodrat sebagai tanaman padi. Jika ia berasal dari benih yang kurang baik, maka tidak menutup kemungkinan ia masih memiliki kesempatan untuk tumbuh layaknya benih unggul jika diberikan pupuk dan perawatan yang baik. Namun sebaliknya, jika ia berasal dari benih berkualitas dan tumbuh tanpa pemeliharaan yang baik, maka bisa jadi benih itu akan rusah.  Sehingga, sangat penting merawat agar benih kurang baik, tumbuh manjadi tanaman yang baik, dan benih yang baik tumbuh subur dan memanen hasil yang baik pula.

4.    Future (Penerapan)

Kodrat alam  berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya setiap anak sudah membawa sifat atau karakter masing-masing. Jadi guru tidak bisa menghapus sifat dasar tersebut. Yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya. Sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Dari kodrat itulah, perlu tutunan menuju keselamatan dan kebagiaan setinggi-tingginya. Pemikiran KHD yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah, seperti budaya “Metaweq”.  Karena memberikan tuntunan hidup selamat dan bahagia sebagai makhluk individu maupun bermasyarakat, dengan adanya saling menghargai dan saling menyayangi.

Dalam penerapan yang saya lakukan di kelas, untuk mengitegrasikan pendidikan dengan pemikiran ki Hajar Dewantara, saya berinisiatif dengan membangun kebiasaan-kebiasaan untuk menerapkan kembali budi pekerti yang sempat dilupakan dan dijauhi oleh peserta didik. Dan, ditambah tidak adanya rasa kepedulian kami sebagai guru untuk mempertahankan budaya tersebut, yakni membiasakan budaya metaweq sebagai penanaman moral baik pada anak.

Untuk mewujudkan peserta didik yang memiliki ilmu lahirnya, juga akan tertanam ilmu batin anak. Dilihat dari, kutipan artikel yang ditulis oleh Ardila (2016:48),  Metaweq’ bagi masyarakat Mandar adalah bentuk komunikasi sosial dalam berinteraksi dengan orang lain, jika metaweq sikap saling menghargai tidak dilakukan, maka orang-orang akan cenderung melakukan hal-hal yang bersifat negatif/bernilai buruk, baik dalam perkataan maupun perbuatannya. 

Dan diperkuat oleh Ridwan Alimuddin salah satu budayawan dari Sulawesi Barat,  mengatakan bahwa, Metaweq adalah sikap, adat kesopanan bagi masyarakat Mandar, metaweq erat kaitannya dengan siriq (malu). Mua dissangi siriq dissang tomi tuqu metaweq, artinya orang Mandar mengsakralkan metaweq sebagai bentuk tuntunan kepada anak untuk mencegah ke perilaku yang negatif.  Dari alasan inilah saya mendorong dan termotivasi untuk kembali menerapkan budaya luhur agar menguatkan benteng karakter unggul pada anak menghadapi perkembangan zaman. 

Pengaplikasiannya di kelas, yakni:

1.    Membiasakan metaweq setiap kali izin keluar dari ruangan, dengan cara mengangkat tangan terlebih dahulu, kemudian metaweq,

2.    Metaweq setiap jalan melewati temannya



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Impian Siswa Dibalik Tes Kemampuan Akademik

Pendidikan

Pendidikan