Budaya Positif Modul 1.4
Budaya Positif
Budaya positif merupakanperwujudan dari nilai-nilai atau
keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Budaya positif yang
diterapkan di sekolah adalah salah satu perwujudan dari visi guru yang
mengandung nilai-nilai kebajikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang
dijabarkan dalam profil pelajar Pancasila.
1. Disiplin Positif Dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal
Dalam disiplin positif untuk menanamkan motivasi bertujuan
untuk menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang dipercaya. Ketika seorang
siswa memiliki motivasi tersebut, mereka telah melakukan motivasi instrinsik
yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak terpengaruh pada hukuman
maupun penghargaan. Mereka akan tetap berperilaku baik berlandaskan nilai-nilai
kebajikan karena mereka ingin menjadi orang menjunjung nilai-nilai yang mereka
hargai.
Menghargai waktu, mnghargai diri sendiri sebagai teladan bagi
siswa yang akan dicontoh. Bukan karna ingin ditegur maupun diberikan
penghargaan.
2. Teori Motivasi, Hukuman Dan Penghargaan, Restitusi
Motivasi perilaku manusia, seperti:
1. Menghindari hukuman
2. Mendapatkan penghargaan
3.Menghargai nilai-nilai kebajikan diri sendiri
Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Siswa
tidak tahu apa yang akan terjadi dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu
arah, dari pihak guru yang memberikan dan murid hanya menerima suatu hukuman
tanpa melalui kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau
sesudahnya. Hukuman bisa berupa fisik maupun psikis, siswa disakiti oleh
perbuatan atau kata-kata.
Konsekuensi sudah terencana atau sudah disepakati. Sudah
dibahas dan disetujui oleh siswa dan guru. Umumnya bentuk konsekuensi dibuat oleh
pihak guru dan siswa sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima
apabila ada pelanggaran. Pada konsekuesi ini siswa tetap dibuat tidak nyaman
dalam waktu pendek.
Restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk
memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok
mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen:2004).
Baik penghargaan maupun hukuman adalah cara-cara mengontrol
perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang
sesungguhnya (Alfie Kohn)
3. Keyakinan Kelas
Pembentukan keyakinan kelas, yakni :
1. Bersifat lebih abstrak daripada peraturan, yang lebih
rinci dan konkrit
2. Berupa pernyataan universal
3. Senantiasa dibuat dalam bentuk positif
4. Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga
mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas
5. Sesuatu yang dapat diterapkan dalam lingkungan tersebut
6.Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam
pembuatan keyakinan lewat kegiatan curah pendapat
7. Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke
waktu
4. Kebutuhan Dasar Manusia
Choice Theory atau kebutuhan dasar manusia mengemukakan
ada lima, yaitu: Pertama, Bertahan hidup, kedua Merasa diterima, ketiga Penguasaan,
keempat Kebebasan, dan kelima Kesenangan.
5. Posisi Kontrol
Kemudian untuk posisi kontrol guru, Penghukum, Pembuat merasa
bersalah, Teman, Pemantau, dan Manajer.
6. Segitiga Restitusi
Segitiga restitusi adalah suatu proses diaog yang dijalankan
oleh guru atau orang tua, agar dapat menghasilkan murid yang mandiri dan
bertanggung jawab.
1. Menstabilkan Identitas
2. Validasi tindakan yang salah
3.Menanyakan keyakinan
![]() |
| Diseminasi Budaya Positif |
https://www.youtube.com/watch?v=rDBlz2dqOoE


Comments
Post a Comment