Komunitas To Manda Tebar Kebaikan di Bumi Aholeang
Laporan : Busriadi
Satu persatu Guru Penggerak mengisi sudut-sudut ruang kelas penyintas gempa 2021 silam. Peserta didik penuh sumringah. Canda, tawa, nampak diraut wajanya yang masih polos itu.
Walau sejumlah ruang kelas masih menggunakan terpal yang mulai
lapuk, semangat mereka untuk menimbah ilmu tak pernah surut. Itu tergambar ketika
proses pembelajaran yang diberikan guru-guru penggerak dari Komunitas To Manda.
Sebagai wujud nyata, kegiatan perdana mereka dengan mendatangi
sekolah yang ada di Desa Mekkatta Kecamatan Malunda, Majene, Sulawesi Barat.
Salah satu sekolah yang mereka kunjungi dalam melakukan
praktik baik adalah SDN 28 Aholeang. SD ini terletak kurang lebih 500 meter
dari Poros Majene-Mamuju. Sebelum gempa 2021, sekolah itu berjarak kurang lebih
3 KM dari Poros Majene-Mamuju. Namun pasca gempa 2021, seluruh warga Dusun
Aholeang terpaksa direlokasi. Termasuk
SDN 28 Aholang.
“Serta menghidupkan suasana dalam kelas, agar anak-anak itu
nyaman, bahagia dalam proses pembelajaran dengan memberikan materi sembari memberikan
games,” tutur Rahman di sela-sela kegiatan, Kamis 25 Januari 2024.
Selain praktik baik, dalam kegiatan itu pula Komunitas Guru
Penggerak To Manda juga memberikan bingkisan ke siswa. Katanya, ada cendera
mata yang di berikan ke seluruh siswa. Dan. Cendera mata itu murni dari Guru
Penggerak To Manda.
Salah satu Guru SMAN 1 Malunda ini berharap, apa yang telah diberikan
tersebut dapat memberikan manfaat kepada peserta dididik dan menjadi amal
jariyah di akhirat kelak.
Ke depan ia juga berharap, seluruh rekan guru yang tergabung
dalam Komunitas To Manda agar tetap terjalin kolaborasi yang baik. Ini penting,
demi mencapatu tujuan dibentuknya komunitas To Manda tersebut.
Untuk kegiatan ke depan, kata Rahman, akan tetap membuat
kegiatan-kegiatan serupa. Namun, tetap akan berembuk dengan rekan-rekan Komuitas
To Manda. Yang jelas, tegas Rahman, bahwa akan terus berbagi praktik baik apa
yang telah mereka dapat dari Pendidikan Guru Penggerak selama 6 bulan itu.
“Termasuk ketika ada hal-hal yang urgen dalam Kurikulum
Merdeka,” tegas Rahman.
Sementara itu, Jasman Rauf dari BGP Sulbar yang hadir dalam
kegiatan ini, menyampaikan apresiasi dan harapannya. Katanya, Komunitas Guru
Penggerak To Manda’ agar terus menebarkan kegiatan-kegiatan serupa.
“Mungkin di beda titik agar mereka juga tersentuh dengan
adanya perubahan-perubahan yang terjadi sekarang ini. Mereka harus
bertransformasi jangan merasa nyaman di zonanya, tapi mereka harus bergerak
juga mengikuti perubahan yang terjadi,” imbuh Jasman.
Walau sesungguhnya, kata Jasman, sangat mengharapkan kegiatan
yang saat ini dilaksanakan dari Komunitas Guru Penggerak To Manda. Karena BGP
sendiri belum memungkinkan menjangakau dari semua wilayah khusunya di Sulbar.
Sehingga kolaborasi dari teman-teman guru penggerak sangat dinantikan.
“Kami mengapresiasi dari guru Penggerak yang ada di Tubo,
Ulumanda, dan Malunda ini yang terus bergerak, tidak pernah berhenti untuk
bergerak dalam melayani teman-teman yang
ada di blank spot. Salah satunya di SDN 28 Ahoelang ini,” ucap Jasman.





Comments
Post a Comment